Memperbaiki Mesin Cuci

22 Aug 2013

Toni, bukan nama sebenarnya, tepat pukul enam tiga puluh menit sudah berada di teras belakang rumahnya, sebuah area semi terbuka berukuran tiga kali tiga meter yang diperuntukan mencuci dan menjemur pakaian.

Berbekal sebuah obeng kembang, mesin cuci bekas yang dibeli dari tetangga sekira empat tahun yang lalu, tepat di salah satu sudut area beratap fiber, sudah ia bongkar beberapa menit kemudian. Pagi itu, sebuah misi mulia pikirnya- akan dihadapinya: memperbaiki mesin cuci dimana wadah bagian untuk mencuci tidak berfungsi, agitator alias pulsator-nya tidak dapat berputar. Padahal bagian itulah yang paling utama. Sedangkan bagian pembersih atau pengering masih berfungsi normal.

Ini bukan yang pertama kalinya. Tahun yang lalu pernah mengalami kejadian serupa. Hanya saja, cukup dengan mengundang tukang servis mesin cuci dengan biaya seratus tujuh puluh ribu rupiah untuk menggantikan elemen kelistrikan yang rusak dan jasanya, mesin pencuci kembali berputar.

Beberapa bulan yang lalu kejadian terulang kembali. Tukang servis mesin cuci kembali dipanggil ke rumah. Namun orang yang berbeda. Biaya dengan jumlah hampir sama pun kembali menguras dompetnya.

Kalau suatu saat ga bisa muter lagi, coba ganti kabel yang ini dengan yang ini… terngiang perkataan tukang servis mesin cuci terakhir yang ia panggil ke rumah, berwasiat sebagai bentuk sharing pada customer.

Termenung ia menatap satu per satu kabel warna-warni di bagian belakang mesin cuci tua itu. Sebagian besar masih utuh, sebagian yang lain hasil sambungan yang terlindung isolasi.

Yakin bisa? tanya istrinya tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Nanti malah meledak lho! tuturnya. Entah sebuah bentuk keraguan atau upaya menakut-nakuti.

Ah, kita coba saja… jawabnya meyakinkan.

Melihat rangkaian kelistrikan di belakang mesin cuci itu, Toni langsung teringat pada elemen kelistrikan yang pernah diganti: kapasitor. Ya. Sebuah benda bentuk tabung berwarna hitam seukuran kepalan tangan orang dewasa itulah yang pernah ditunjukan si tukang servis jika pulsator lemah atau bahkan tidak berputar.

Gambar Kapasitor

Tanpa menunda-nunda, Toni langsung mempraktekan mata kuliah singkat dari seorang dosen tukan servis mesin cuci, menggantikan sebuah kabel yang pernah tersambung dan terlilit isolasi dengan kabel yang lain yang belum terpakai, dari kapasitor yang sama.

Sesaat setelah kegiatan operasi selesai, dengan kondisi usus mesin cuci masih terburai keluar, ia colokan kabel power untuk mencoba menghidupkannya.

Jangan deket-deket, yank… Nanti meledak! perintah Toni pada istrinya. Entah bentuk sayang sama istrinya atau mungkin menakut-nakutinya. Tapi sepertinya bentuk balasan atas ucapan istrinya di awal ketika ia baru saja selesai membongkar.

Istrinya pun menjauh, bahkan masuk ke dapur dan mengintip di balik jendela.

Bismillaah…ucapnya mengawali sesaat sebelum memutar timer mesin cucinya. Dan…. Jreng!! Pulsator kembali berputar diiringi suara yang khas putaran mesin cuci.

Istrinya keluar melompat-lompat kegirangan. Melempar senyum puas atas kinerja suaminya. Puas karena tidak perlu lagi mencuci pakaian dengan super manual alias tangan. Lebih puas lagi karena tidak perlu ada uang keluar sebagai biaya perbaikan mesin cuci.

Tahu nggak yank, apa yang aku lakukan selepas shubuh tadi? tanya Toni pada istrinya sembari mengencangkan baut-baut penutup bagian belakang mesin cuci. Istrinya hanya menggeleng.

Aku masukkan uang lima ribu ke kotak amal masjid, lalu aku berdoa: Ya Allah mudahkan kami dalam perbaikan mesin cuci kami, tanpa harus keluar banyak biaya…Terserah Engkau, apa dengan tanganku sendiri, atau si tukang servis itu lagi…

)* Diangkat dari kisah nyata


TAGS indahnya sedekah doa makbul


-

Author

Search

Recent Post