Yang Pergi dan Yang Dilupakan

31 Aug 2012

430e505d4077546b7d13af9d347a2eb0_kini-aku-pergiSatu detik berlalu. Gaung “kemenangan” -walau sebenarnya hanya untuk sebagian orang- amat terasa saat adzan maghrib berkumandang. Penantian telah berlalu. Bermuara pada ruang bahagia bernama malam takbiran. Lepas sudah kekang terali. Yang mengikat siapapun untuk dapat menahan rasa lapar dan dahaganya di siang hari. Terlepas anjuran untuk ‘begadang’ di setiap malamnya untuk ruku’ dan sujud berkali-kali. Anjuran untuk memperbanyak tilawah, mengkaji ayat Illahi, memperlebar ruang dompet untuk dapat bersedekah, dan amalan-amalan lainnya hingga ditutup dengan kewajiban membayar zakat fitrah.

Sayang. Sungguh teramat sayang. Sejatinya masa-masa “pendidikan” itu hanya sekadar permulaan. Yang semua yang didapatkan adalah untuk modal masa depan. Bekal untuk menghadapi setelah menempuh “pendidikan”. Namun baru saja melewati masa “wisuda”, sebagian orang langsung saja melupakan.

Subuh yang mungkin dilakukan di awal waktu dan biasa berjamah ke mesjid, di hari pertama setelah kelulusan malah kesiangan. Atau bisa saja mungkin yang ketinggalan dan tak ditunaikan.

Dzuhur dan ashar yang juga senantiasa dilaksanakan tepat setelah adzan, di awal syawal justru sedang sibuk silaturahmi, pergi bertamasya atau yang sudah tiba di rumah, namun sedang menikmati lelah.

Maghrib dan isya berjamaah di mesjid, bisa jadi ada yang tidak menunaikan, bahkan ketiduran. Letih melakukan perjalanan ibadah “wajib” lainnya, ritual setiap satu syawal : berkeliling dan “minal aidzin”- an.

Ayat dalam mushaf yang dalam ramadhan bisa jadi berpuluh-puluh ayat terucap di lisan dalam sehari, dalam satu syawal mungkin satu lembar saja sudah hebat. Begitu pula dengan sholat malam, sedekah, dan amalan-amalan lainnya. Garis dalam grafik pun menurun drastis.

Inilah realita -termasuk aku di dalamnya. Sebagian menganggap semua amalan hanya untuk ditunaikan di bulan Ramadhan. Padahal sesungguhnya, amalan di luar Ramadhan jauh lebih penting dibanding di dalam Ramadhan. Karena di bulan Syawal hingga Sya’ban itulah diri kita yang sebenarnya.

Ditulis oleh Nuun dan Rimbun Ilalang

Cisoka, 20 Agustus 2012


TAGS pendidikan ramadhan amalan-amalan ramadhan nuun rimbun ilalang


-

Author

Search

Recent Post