Jika Aku Pulang

12 Aug 2008

Di bawah ini, sebuah lagu/nasyid Opick sengaja saya tampilkan. Boleh didengarkan, dan dihayati… sebelum membaca tulisan “Jika Aku Pulang”[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/OSt8DQign60" width="425" height="350" wmode="transparent" /]

Jakarta, 09 Oktober 2009

Dua puluh satu oktober, hanya tinggal menghitung malam. Tanggal yang tidak terlalu istimewa. Namun bersejarah buatku. Karena itulah tanggal kelahiranku.

Namun, siapa yang akan menjamin, aku masih bisa menikmati hari di tanggal itu?

Beberapa hari kemarin, aku menyempatkan diri memutar CD “Nafas Terakhir” dan “Malam Pertama di Alam Kubur”. Sebuah tutorial untuk “melembutkan hati” dengan mengajak selalu mengingat kematian. Mengingat sebuah akhir perjalanan, yang akan menghapus semua kenangan. Menghilangkan semua kesenangan dunia.

Dan, tak salah jika aku menulis di halaman ini, sebagai persiapan, jika setelah aku menulis ini, aku tidak akan sempat lagi menulis di berbagai cara dan media manapun.

Jika aku “pulang”… Aku terima keputusanNya. Dan memang kutolak pun takkan kuasa. Namun aku sudah cukup puas dengan hidupku. Dianugerahi istri yang sholehah. Yang mengerti kelebihan dan kekurangan suaminya. Dengan segala keterbatasanku tetap menicntai dan menyayangi setulus hati.

Lengkap kebahagiaanku dengan semakin besarnya si Buah Hati Salman AlFarisy. Yang sejak Ramadhan tahun ini sudah bisa berjalan. Sudah banyak kepandaian. Mulai mencoret-coret kertas dengan pena, terpukau jika melihat buku, naik turun tempat tidur, hingga hafal suara motor ayahnya jika pulang kerja.

Rasanya sempurna kebahagianku dengan dihadirkannya seorang mertua yang amat sayang padaku. Perhatian dan sangat peduli terhadapku. Sampai-sampai tak enak hati dengan kakak ipar yang seolah aku menjadi anak emas.

Kusampaikan salam dan terima kasih yang tiada terkira untuk orang-orang yang kucintai. Orang tua yang dengan pengorbanannya mendidik dan membesarkanku. Guru-guru yang mengajariku “alih ba ta”. Teman-temanku yang mengenalkan arti hidup. Juga buat orang-orang yang ada, atau bahkan sempat hadir di hati.

Tak ada yang dapat kubawa “pulang”, kecuali apa yang pernah aku kerjakan, dan apa yang kalian doakan buatku…

************************************************************

Jakarta, 12 Januari 2009

Terima kasih Allah…Kau berikan aku hidup, Kau anugerahkan segala bentuk kebahagiaan. Hingga kau sampaikan aku, istriku, anakku, keluargaku, saudara-saudaraku, hingga hari ini.Kini buah hati yang selama ini jauh dari pandangan, kembali dalam pelukan. Tiap hari, tiap saat dapat kulihat senyumnya, cerianya, dua giginya yang baru tumbuh seminggu yang lalu.

Terima kasih ya Rabb…Rumah mungil yang Kau titipkan buat kami, cukup untuk menghindari dari terik dan hujan, dari panas dan dingin. Dan jika aku pulang dalam waktu dekat, jemput aku dalam keadaan suci. Pulangkan aku dalam keadaan ridha-Mu. Dalam keadaan keluargaku telah bangga memilikiku. Dalam keadaan siapapun bangga mengenalku.

Terima kasih ya Tuhan…Kau anugerahkan hati yang dapat mensyukuri atas semuanya, kau titipkan lidah dan mulut yang bisa mengucapkan terima kasih padaMu.Kutitipkan “cahaya hati” dan buah hati padaMu, pun dengan keluargaku…

*********************************************************************************Jakarta, 27 September 2008

Hari ini, perjalanan darat ke sekian kali Jakarta - Bengkulu kutempuh. Sebuah bis Putra Raffesia akan mengantarku ke sebuah kota kecil, dimana disana telah menanti cahaya dan buah hatiku.Pemberangkatan direncanakan pukul 11.00 WIB. Jika tak ada halangan dan sesuai jadwal, sekitar pukul enam esok hari sampailah kakiku menginjak tanah kelahiran belahan jiwaku. Untuk sama-sama menghabiskan sisa Ramadhan. Serta menikmati alunan takbir di hari Idul Fitri. Tentu dengan keluarga istriku di sana. Sedangkan rencana untuk menemui ibuku serta adik dan keponakanku di Majalengka direncanakan setelah kepulanganku ke Jakarta.Tapi, aku hanya bisa berencana. Toh, Dia yang mempunyai rencana juga dan penentu setiap apapun. Termasuk, apakah rencanaku ini sesuai, atau tidak.Aku sadar. Aku manusia, dimana hidup dan mati ada di tanganNya. Siapa tahu, perjalanan ini adalah perjalanan mengantarku untuk bertemu denganNya. Untuk itu, siapapun itu, sampaikan salamku untuk semua (orang-orang yang kusebut pada tulisan yang ku posting terakhir “Met Lebaran ya..”).

Sampaikan juga permintaan maaf yang sedalam-dalamnya. Dan permohonan untuk meluangkan waktu sesaat melantunkan doa untukku di alam yang kekal nanti.

**********************************************************************

Jakarta, 17 September 2008

Indah sekali bulan ini. Maaf, bukan bulan September. Tapi, maksudku, bulan suci ini. Bulan saat aku sangat merasa bahagia. Hingga tak sadar sudah di pertengahan bulan. Namun jua bulan dimana aku merasa keheningan menusuk hati. Saat tak dapat makan sahur dan buka bersama. Bersama “cahaya hati”, dan keluarga tercinta.Sepertinya, sangat indah sekali bulan ini. Jika Dia putuskan semua yang kupunya. Segala yang kumiliki di dunia. Karena, kebahagiaan lain akan terasa, jika sudah bersua denganNya.

Ya Allah, jika memang hendak Kau jemput aku di bulan ini. Kupasrahkan jiwa raga ini. Karena memang aku takkan kuasa untuk mengundur hingga waktu yang kuinginkan. Namun, jika masih ada waktu untuk kusampaikan permintaan terakhirku. Aku ingin jadikan bulan ini adalah bulan dimana aku berada di puncak rasa cinta padaMu, rindu perjumpaan denganMu. Kau jadikan sujudku menjadi sujud yang paling khusyu. Sedekah yang paling ikhlas. Pengorbananku padaMu, dan keluarga tercinta yang paling tulus. Serta di saat hatiku yang paling bersih nan suci.Izinkan Kau pertemukan aku denganMu, dalam keindahan surga. Dan satu pinta lagi padaMu…

Kutitipkan ibu, adik, belahan jiwaku, buah hatiku, keluargaku, teman-teman seperjuangan dari kecil hingga saat ini, serta orang-orang yang mulia dalam pandanganMu, untuk selalu Kau lindungi dengan perlindunganMu yang sempurna. Kau jauhkan dari segala musibah dan bencana. Dan pertemukan kembali denganku kelak di surga. Amin.

************************************************************************

Jakarta, 22 Agustus 2008

Hampir sebulan, aku tidak menulis dalam lembar ini. Padahal setiap harinya, Izrail setia mengintai. Kematian selalu disamping. Siap mendekat. Menjemput dan mengambil semua kebahagiaan dunia. Dan hilanglah berbagai harapan yang diimpikan. Bagaimanapun caranya. Entah waktu aku menaiki bis Bengkulu Kito yang terbakar kabel accu di pekan yang lalu, saat hendak menjenguk si buah hati ke Bengkulu. Atau ketika berada di tengah-tengah deck kapal penyeberangan Merak Bakauheuni yang bisa saja tenggelam atau terbakar. Bahkan bisa saja bis terjungkal, terbailk atau terjerumus pada jurang-jurang curam antara perjalanan Lampung Bengkulu.Sehari-hariku menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh lebih dari 10 km hingga 50 km dengan kecepatan rata-rata lebih dari 60 km/jam, bisa saja hidupku berakhir saat mengendarainya.

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS. Annisa (4):78)

Atas dasar itu, lembar ini ada. Dan jika memang benar-benar terjadi, dari sekian banyak cara, sampaikan Selamat untuk 3 (tiga) orang kakak/saudaraku seperjuangan yang lulus beasiswa S2. Kais (S2 ITB), Mas Heru (S2 ITB), dan Mas Jemmy (S2 UGM). Yang dengan ketiadaan mereka di ruangan Helpdesk MPN kelak, membuat suasana goyah, cemas. Tak ada tempat untuk bertanya. Karena mereka menjadi penopang MPN di ruangan Helpdesk MPN.Untuk teman-teman yang belum lulus, semoga kelak mendapat sebuah keyakinan bahwa segala sesuatu ada saripati hikmah yang dapat didapatkan.

Salman Alfarisy telah beranjak usia 3 (tiga) bulan. Sudah banyak kepintaran yang ia perlihatkan untuk ayahnya. Dan ia belum merasakan dinginnya udara Majalengka, tempat kelahiranku. Sampaikan untuk cahaya hatiku untuk mengajak Salman mengunjungi neneknya (walau semalam) di Majalengka yang telah rindu untuk menggendongnya. Setelah terakhir menciumnya waktu masih berusia satu hari.Selamat jalan untuk semuanya…

****************************************************************************Jakarta, 29 Juli 2008

Jika aku pulang, dalam perjalanan esok hari, sampaikan salam buat cahaya hatiku, pendamping hidupku, yang telah bersusah payah mengurus, mengasuh, menyusui dan membesarkan hingga buah hatiku berusia dua bulan setengah, bahwa kepulanganku (menemuiNya) sebenarnya di luar rencana. Karena memang niatku untuk bertemu dengannya. Tiga minggu kutinggalkan ia dan my little prince di tanah kelahirannya, namun serasa tiga tahun lamanya. Bagiku tak klise, memang itu adanya.Jauh hari aku merencanakan pertemuan denganmu istriku, namun Allah jua yang harus kutemui. Tak apa selama aku dan engkau ikhlas karenaNya.Barang-barang yang kubawa : stroler (kereta dorong bayi), kompor gas, sedikit cemilan yang ia pesan dan buah-buahan serta dua pasang sandal murahan, itu semua demi anakku serta kebahagiaan keluargaku di Bengkulu. Walau akhirnya tak sempat kutatap lagi senyum mengembang mereka. Sebagaimana senyuman mereka tatkala aku bengong tidak memahami bahasa Manna.

******************************************************************************Jakarta, 18 Juli 2008

Jika aku pulang,Aku hanya memiliki uang (yang aku pegang) saat ini pada :1. Dompet Rp 405.000,-2. Rekening Mandiri sekitar Rp 4.500.000,- (terakhir yang kuketahui)3. Rekening BRI sekitar Rp 4.500.000,- (terakhir yang kuketahui)4. Amplop putih (dlm map hitam) Rp 577.500,-Sedangkan utang-utangku adalah :1. Cicilan BRI sebesar Rp 700.000,- an (sepertinya pasti otomastis lunas jika aku pulang karena telah dijaminkan dengan suransi).2. Cicilan Adira (kredit motor) yang tersisa 4 (empat) bulan lagi sebesar Rp 503.000,-3. Cicilan KPR BTN yang saat ini sebesar Rp 320.000,- baru jalan 6 (enam) bulan sampai dengan 15 (lima belas) tahun yang secara otomatis memotong TC-ku.4. Cicilan Koperasi sebesar Rp 420.000,- an yang memiliki asuransi kematian juga jika aku pulang.5. Uang kas helpdesk Rp 2.853.900,- (File C:\veganun2_ekskul\kas bulanan helpdesk.xls)6. Perbaikan instalasi listrik di rumahku di Griya Permata Cisoka Blok C7 No. 01 pada tetangga (Papanya Danu) yang jumlahnya ditentukan Papanya Danu.7. Zakat profesi yang belum kubayar Rp 27.000,- biasanya kusetor melalui rekening RZI di Mandiri.8. Iuran Bulanan RT di Griya Permata Cisoka sebesar Rp 20.000,-Niatku yang belum kesampaian :1. Menyumbang mesjid Baiturrahman di Griya Permata Cisoka sebesar Rp 200.000,-2. Aqiqahkan anakku Raden Salman Al Farisy.3. Qurban ibuku dan salah satu mertuaku.JJika aku benar-benar pulang Aku akan merasa bahagia jika :1. Sebesar Rp 500.000,- disedekahkan.2. Utang-utangku untuk bulan depan terbayar, khususnya yang tidak memiliki jaminan (asuransi : nomor 2,5,6,7 dan 8)3. Dan sisa uang yang ada : 65% untuk istriku, 20% untuk ibuku, dan 15% untuk ibu/bapak mertuaku.4. Serta gaji bulananku selanjutnya, kuserahkan pada kebijakan istriku untuk mengasuh, mendidik dan membesarkan buah hatiku. Sedekah untuk keluargaku dan keluarga istriku secara proporsional. Selama ia masih sendiri hingga (jika Allah berkehendak) menikah lagi. Setelah itu, ibuku atau yang mewakili yang mendapat waris gaji bulananku.Istriku, cahaya hatiku, soulmate-kuAku pulang. Aku lebih dulu membangun rumah (insya Allah) di surga. Kutunggu engkau di teras rumah kita di sana.Bukan harta yang kuwariskan padamu. Melainkan kejujuran hidup. Rasa syukur terhadap apa saja. Cinta dan kasih sayang terhadap apapun dan siapapun.Insya Allah, kan kubangun rumah yang lebih indah melebihi rumah kita yang mungil di dunia. Bahkan lebih indah melebihi istana raja-raja di dunia. Amiin.

******************************************************************************Jakarta, 2 Juli 2008

Jika aku pulang dalam waktu yang dekat, sampaikan pada mama (ibu mertuaku), bahwa aku menyayanginya. Sampaikan terima kasih, sebagai balas budi (yang mungkin tak seberapa), atas perhatiannya yang lebih padaku. Melebihi perhatian dan sayangnya pada anak-anaknya, serta menantu yang lain. Yang ia selalu teringat aku saat ia makan buah durian. Atau saat ia makan gulai unji. Hingga tak lelah tangannya untuk menjinjing lima buah durian dari Bengkulu ke Jakarta. Karena teringatnya padaku. Yang tak henti-hentinya menceramahi istri atau anak bungsunya, jika membuat aku lelah atau mengeluarkan banyak uang. Yang menitikan air mata, saat perpisahan di bandara beberapa waktu yang lalu. Saat menjenguk pertama kali ke Jakarta. Atau yang dengan sedikit memaksa aku untuk membawa bekal darinya saat aku hendak bepergian. Dan sejuta perhatian lainnya Inipun yang papa (bapa mertuaku) lakukan padaku.Jika aku pulang dalam waktu yang dekat, sampaikan terima kasih buat wah (kakak iparku). Yang tidak memperhitungkan sama sekali pengeluarannya demi istri dan buah hatiku. Peralatan dan perlengkapan bayi, pakaian istri, hingga sekedar kemeja kerja atau kaos oleh-oleh dari Bali untukku. Perhatian yang begitu besar untuk anakku. Hingga ia melarang aku dan istri membawa pulang ke Bengkulu dengan bis, hanya karena belum boleh dibawa dengan pesawat udara.Jika aku pulang dalam waktu yang dekat, sampaikan terima kasih juga buat dodo (adik iparku). Aku mencintainya, aku sayang sama dia. Yang teramat sangat dekat denganku. Yang tak sungkan lagi bercanda denganku. Yang mempercayaiku sebagai kakak, bukan sebagai kakak ipar. Yang penurut, jika aku mendorongnya untuk terus belajar dan mendapat prestasi dengan baik. Yang benar-benar membuktikan janjinya untuk masuk tiga besar dari 10 besar. Walaupun kenyataannya masuk 4 besar. Yang kadang tak canggung lagi minta kirimkan pulsa, saling mengirim dan menerima sms, atau bercerita lewat telpon. Terima kasih sudah mau menjadi adikku. Sampaikan juga permintaan maafku, jika memang aku tak layak untuk menjadi kakak yang baik dan yang ia harapkan. Karena, inilah aku dengan segala keterbatasanku. Maaf juga karena kado ke Dufan belum dapat terlaksana. Sebagai hadiah prestasinya tembus 4 besar. Semata-mata karena situasi yang tidak memungkinkan. Bukan aku ingkar dari janji. Tapi semoga, kelak Dufan dapat engkau jamah bersama dengan yang lain.Terima kasih semuanya, i love you all, forever

******************************************************************************Jakarta, 20 Juni 2008

AllahKebahagiaan yang terus menerus hadir tanpa henti ini kuyakin dariMuDesah nafas yang tak mampu kuhitung, detak jantung yang tak sempat kubilang, inipun karena kehendakMuMataku, yang Kau ciptakan dengan indah, dapat melihat senyum buah hatiku, dapat memandang keanggunan wajah teduh istriku, belahan jiwaku. Lalu ku tak bosan-bosannya memandang ukiranMu di bumi. Bentangan gunung dan bukit, hamparan samudera biru, coretan kuas di langit biru, awan-awan yang berjalan, makhluk-makhluk yang Kau bentuk, semua karena Kau berikan aku indra penglihatan.KarenaMu aku dapat mendengar. Tangisan bayi mungilku. Tilawah quran istriku, kumandang adzan muadzin, perkataan, pembicaraan orang. Bahkan kicauan burung, kokok ayam di pagi hari, derum mesin yang membisingkan kota, keheningan sepertiga malam terakhirKau ciptakan hati ini Ya Rabb. Sehingga bisa merasakan kebahagiaan yang ibu ayah berikan, merasakan suka duka kehidupan, keluh kesah segala kejadian dan pengalaman. Dan merasakan keberadaanMu. Dapat melihatMu. Tentu dengan mata hatiku.

AllahJika aku pulang, aku telah menyempatkan diri untuk berterima kasih padaMu.

****************************************************************************

Jakarta, 13 Juni 2008

Hari ini bayi mungilku genap berusia tiga puluh hari. Sudah banyak apa yang telah dia bisa. Menangis, tertawa saat ia tertidur karena mimpi, tersenyum, bentuk bibir tipis nan mungil yang membentuk paruh burung, menggeliat-geliatkan badan sambil bersuara, menendang-nendangkan kaki, menggerak-gerakkan tangan tanpa tahu apa maksudnya, mengangkat kepala saat dimandikan, dan entah sekian banyak yang telah kusaksikan dengan meta kepala sendiri.

Syukurku padamu ya Rabb yang telah menganugerahkan kenikmatan tanpa memandang sebanyak apapun dosa dan khilafkuJika aku pulang nanti, sampaikan pada anakku kelak jika telah dewasa. Bagaimana indahnya (jika tak boleh dikatakan susah) mengasuhnya sejak ia terlahir ke dunia hingga usia sebulan sebelum kematianku. Aku menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan dan pengorbanan ibunya, yang dengan sendiri di rumah mengurusnya. Melakuka pekerjaan rumah, menyapu, mengepel, memasak, sembari terkadang pekerjaan itu terhenti saat anakku menangis karena terbangun dari tidurnya.Kusaksikan sendiri, bagaimana ibunya sudah tidak sempat lagi memotong kuku karena kesibukannya mengasuh anaknya supaya tidak menangis saat buang air kecil atau buang air besar. Terkadang ibunya mandi secepat-cepatnya. Masakan setengah matang dan apa adanya. Melakukan hampir seluruh pekerjaan dengan terburu-buru.Aku juga melihat sendiri ibunya tertidur karena kelelahan, padahal adzan maghrib baru saja berkumandang. Kulihat juga ibunya menyusui dengan mata terpejam, kadang terangguk karena mengantuk. Dan sekian banyak keluh kesah karena mengurusmu, nak. Bagaimana engkau akan menyakitinya kelak jika telah dewasa ?Aku mengharap, dengan kepergianku, jika telah dewasa, engkau (anakku) senantiasa dapat membahagiakannya, menyayanginya, sebagaimana ia telah menyayangimu. Dan tentu, kunanti doamu

*****************************************************************************Jakarta, 6 Juni 2008

Aku termasuk orang, yang jika mendengar Ramadhan, maka pertama kali kulihat angka pada kalender adalah tanggal hari lebaran. Bukan tanggal hari pertama puasa.Aku juga termasuk orang, yang jika mendengar Bulan Suci, maka rencana yang mungkin jadi bahan fikiran di kepalaku adalah rencana cuti, pulang kampung/mudik, menyiapkan sejumlah biaya mudik, oleh-oleh dan segala tektek bengeknya.Rasanya aku mesti punya rasa malu dengan semua itu. Terutama malu kepada Tuhanku yang telah menghidupkanku, menyampaikanku ke sejumlah bulan Ramadhan, namun lagi-lagi persiapannya adalah Lebaran, Idul Fitri, Ketupat, pulang kampung bukan persiapan RamadhanNya.Sekarang aku menyadari jika usia tak terjamin dengan apapun. Semua mudah jika Allah sudah berfirman Kun fayakun !Jika aku pulang minggu iniSetidaknya aku sudah memikirkan apa saja yang akan kupersiapkan untuk menyambut tamu ku kelak. Dengan ilmu, yang akan kugali lebih banyak lagi dibanding tahun kemarin. Dengan materi, sehingga mempunyai ketersediaan dalam mendukung Ramdhan. Persiapan Fisik untuk bisa tetap fresh dan fit menghadapinya. Dan Moral dengan rasa bahagia dalam menyambutnya.Aku tidak mau lagi termasuk orang yang terkejut, karena tidak menyadari jika tiba-tiba saja sudah Ramdhan. Aku ingin termasuk orang yang sudah mempersiapkan diri menyambutnya jauh-jauh hari. Bahkan tiga bulan sebelumnya sebagaimana apa yang telah Rasul dan para sahabatnya lakukan.Allahumma baariklanaa fii rajaba wa syaban, wa balighna ramadhan (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan).Tapi semuanya kembali padaMu ya Rabb. Karena, jika aku pulang, setidaknya Engkau mencatat aku termasuk hamba yang telah siap menyambut ramadhan tahun ini.

*****************************************************************************Jakarta, 2 Juni 2008 M

Usia Salman baru saja 18 hari. Namun tingkahnya seperti anak sudah besar. Tidak mau diselimuti, kaki dan tangan bergerak kuat, jika menangis suaranya keras, tidur sesekali miring, kadang jika digendong sudah berani nendang-nendangAku bahagia sekali. Sudah puas aku dengan baunya ee Salman. Dikencinginya saat digendong. Dipukulnya kepalaku dengan tangan mungilnya saat aku mencium pipinya, atau bahkan meronta-ronta saat haus dan saat berada dalam pelukanku.Kalaupun Engkau menjemputku dalam waktu yang dekat, ya Rabb. Aku ikhlas sepenuh hati. Dengan kerelaan melepas titipanMu. Asal Kau anugerahi ketabahan, keikhlasan serta kekuatan kepada istriku untuk meneruskan perjuangan membesarkan dan mendidiknya.

***********************************************************************

Jakarta, 21 Mei 2008 M

Jika aku pulangAku telah merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Kebahagiaan yang telah lama dinanti sekian lama.Buah hatiku. Ya. Buah hatiku.Kini dengan mata minusku dapat melihat bibir mungilnya saat menangis, tersenyum, manyun dan sekian ekspresi lainnya. Dengan telingaku aku dapat mendengar dengan jelas tangisannya pertama kali saat terlahir, atau saat ia lapar, saat ia pipis dan buang air besar. Dengan tanganku bisa merasakan bertambah berat badannya setelah melalui usia 6 hari. Dengan bibirku bisa merasakan lembut kulitnya atau dengan hidungku dapat mencium harum tubuhnya Semua seolah menjadi puncak kebahagiaan yang telah lama kudaki. Dan kini semuanya telah kuraih.Jika aku pulangKutitipkan penyejuk mataku ini kepadamu duhai istriku. Besarkan dan didik ia hingga menjadi anak yang dirindukan banyak orang, disenangi setiap insan, dan tentu dicintai Tuhannya. Dan bisa bertemu ayahnya kelak di surga yang kuharapkan.Kepadamu wahai Salman Al FarisiHormati ibumu, nak. Lakukan apapun yang kau mampu buat ibumu sebagai bukti kecintaanmu kepada Allah. Dan doamu senantiasa kunanti.Buat Mimi, Mama dan PapaTerima kasih telah dengan rela menemani istriku, saat detik-detik bertemunya aku dengan Salman. Terima kasih telah dengan ikhlas untuk mencoba silih berganti menggendongnya untuk tidak menangis. Aku mohon maaf jika tidak dapat membahagiakan melebihi apa yang di kalian harapkan. Baik dariku maupun istriku. Karena aku hanyalah aku yang tak lepas dari kekurangan.AllahTerima Kasih. Syukurku padaMu telah Kau percayai kepada kami untuk Kau anugerahkan seorang putra, yang semoga kelak bisa berbakti padaMu dan kedua orang tuanya, serta menjadi manusia yang banyak memberikan manfaat kepada sesama. Amiin.

*************************************************************************

Jakarta, 9 Mei 2008 M

Jika aku pulang minggu iniAku telah merasakan kebahagiaan lain saat ini. Ibuku, yang janji menemani istriku menghitung hari, menanti sang buah hati, kini sudah bersama kami. Bersama mengharap dan menanti, kapankah saat kebahagiaan yang lain lagi kan tiba. Adalah saat cucunya yang kedua terlahir ke dunia. Setelah yang pertama dari adikku. Yang Allah anugerahkan berjenis kelamin perempuan.Laki-laki atau perempuan, sama saja. Yang penting sehat dan kelak menjadi anak sholeh Aku setuju apa yang ibu bilang. Walaupun aku berdoa, sekedar berharap dan keinginan mempunyai anak laki-laki. Semunya Dia yang menentukan. Dan tentu lebih tahu apa yang terbaik bagiku dan keluarga.Jika aku pulang minggu iniAku ingin sekali menyampaikan jutaan terima kasih buat ibu, yang dengan susah payah ke Jakarta. Berbekal sebuah kertas bertuliskan alamat rumah kontrakan aku. Padahal ia seorang yang buta huruf. Orang desa yang tak terbiasa dengan hingar bingar suasana kota. Tak terbiasa dengan bising mesin. Juga yang tak mengerti dengan ruwetnya jalan-jalan di kota. Apalagi mendengar kabar bahwa ibu diturunkan di sebuah tempat yang ia sama sekali tak mengenali tempat tersebut, gara-gara bis yang ia tumpangi berkali-kali mogok.Ditambah kerepotannya membawa oleh-oleh kampung. Lima kilo kentang, beberapa rantang beras, kue-kue kering dan tentu pakaian selama ia tinggal di Jakarta.SubhanallahalhamdulillaahAllah dengar dan kabulkan permohonanku. Saat dapat kabar dari adik bahwa ibu telah berangkat, aku langsung tadahkan wajahku ke langit lalu menjerit dalam hati : Ya Allahlindungi perjalanan ibuku dengan perlindunganMu yang sempurna. Jauhkan ia dari segala musibah dan bencana. Dan kelak, pertemukan kami dalam suasana bahagia Buat belahan jiwaku, sabar ya sayang. Aku bukan pergi. Tapi aku pulang. Bukankah kita bersama selama ini cuma sekedar mampir di bawah pohon? Kelak pun kunanti kepulanganmu.Terima kasih atas segalanya. Termasuk jika engkau kelak dapat dengan sabar dan segala pengorbanan mendidik dan membesarkan anak kita. Semoga itu menjadi jalan jihad bagi wanita sepertimu. Sampaikan salam buat keluarga kita di Bengkulu.Aku pulang lebih dulu

****************************************************************************

Jakarta, 2 Mei 2008 M

Jika aku pulang minggu iniSaat ini adalah bulannya bagi istriku. Tinggal menunggu hari. Saat yang dinanti setelah sekian lama mengharap datangnya sang Buah Hati. Tanggal 22 adalah prediksi dokter. Sedangkan tanggal 30 merupakan estimasi bu bidan. Wallahualam Kapanpun hanya satu yang kuharap. Keselamatan istri dan anakku.Namun, segala sesuatu sangat mudah bagi Dia. Aku yang sangat mengharap melihat bayi mungilku kelak, belum tentu juga terlaksana. Aku yang ingin sekali menggendong darah dagingku nanti, belum tentu juga terkabulkan. Kembali pada sebuah KekuasaanNya. Segala kemungkinan bisa terjadi, termasuk kepulanganku ke kampung halaman, akhirat.Jika memang Allah berkehendak demikian, aku belum sempat memandang mata indah buah hatiku, tolong sampaikan (walaupun istriku telah mengetahui) bahwa aku telah menyiapkan nama untuk pahlawan kecilku.Jika ia seorang laki-laki, Salman Alfarisy lah namanya. Semoga besar nanti, ia bisa menemukan dengan sendiri mengapa ia kusandangkan nama salah satu sahabat Rasul itu. Karena yang kuharap, kelak ia menjadi seorang yang cerdas, yang tak kenal putus asa dalam menghadapi segala badai hidup, disamping seorang pencari ilmu dan ahli ibadah.Jika ia seorang perempuan, telah kudiskusikan dengan istriku. Cahaya Hati. Ya, Cahaya Hati. Nama yang relatif terlampau sederhana dan tak ada kaitannya dengan nama-nama Islami. Namun semoga dengan sederhananya nama ini pula yang membawa putri kecilku ini kelak menjadi orang yang bersahaja, apapun kondisinya untuk tetap hidup sederhana, disamping menjadi penerang hati siapapun yang mengenalnya, yang memberikan kedamaian bagi siapapun yang memandang dan bergaul dengannya, yang memancarkan kebaikan bagi sebanyak-banyak manusia yang bersamanya. Juga menjadi putri yang cantik sebagaimana indah namanya.Semua itu kusampaikan, karena kuyakin. Segala sesuatu sangat mudah bagiNya.Kun fayakuun

*****************************************************************************

Jakarta, 9 April 2008 M

Jika aku pulang minggu iniTolong sampaikan terima kasihku untuk mimi. Seorang ibu yang sering bohong kalau ia sudah kenyang jika aku minta makan. Yang pernah bohong ia tidak pernah lelah mengasuhku, dan sekian banyak tanpa tepi kebaikan yang kuterima. Aku juga ingin berterima kasih untuk papih, seorang ayah yang sebenarnya sayang padaku, walau sering marah-marah. Tapi mungkin ucapan ini akan langsung kuucapkan saat ini, bertatap muka di sana.Terima kasih mahpah.. yang telah melahirkan, menyusui, mengasuh, mendidik dan membesarkan istriku serta tak henti-hentinya menyayangiku.Untuk istriku, cahaya hatikuTerima kasih telah ikhlas mendampingiku, mencintai dan menyayangi di tengah-tengah kehidupan yang penuh warna-warni ini. Selebihnya, akan kupersembahkan terima kasihku kelak jika kita bertemu di surga. Kunanti kepulanganmuUntuk buah hatiku, maaf jika aku belum sempat mendengar tangisanmu saat silau melihat dunia. Maaf, nak. Ayah tidak sempat melihat senyum manismu saat ibu gendong dan ayah tak bisa menggendongmu. Maaf nakAyah pulang lebih awal. Aku berdoa semoga bisa bertemu di sana yaUntuk semua sahabat, sejak kecil sepermainan, ketika bersama-sama berangkat sekolah bersama, teman-teman sekolah hingga kuliah, rekan-rekan kerja yang tak bosan untuk terus bercanda dan bekerja sama. Untuk semua atasan yang saya hormati, dan (maaf) terkadang saya benci karena sesuatu hal. Terima kasih semua dan mohon maaf. Semoga dua kata ini mewakili semua apa yang saya perbuat dan terima selama ini.


TAGS 19356


-

Author

Search

Recent Post