Jendela Hati






         Catatan (kecil) kisah-kisah yang terserak

12 Januari 2010

Guru perlihatkan (maaf) bulu ketiak

Filed under: Non-diary — nuun @ 08:06
Tags: , , , , ,

Gara-gara kuku seorang guru, sang murid minggat keluar kelas dan tak lagi mengikuti pelajaran. Begitu kira-kira yang kutangkap dari seseorang yang “curhat” padaku beberapa waktu lalu.

Ia seorang aktivis. Hampir setiap akhir pekan disibukkan dengan kegiatan organisasi.  Dan dia pula yang menyemangatiku untuk senantiasa menjadi lebih baik, setiap hari, setiap saat. Karena (via) dia juga membuat aku semangat ke mesjid apapun kondisinya, jika adzan telah berkumandang.

Suatu saat, selepas acara kajian di tempat kerja, ia bercerita. Sewaktu ia mengikuti sebuah kajian rutin, secara tak sengaja ia melihat kuku sang “guru” yang mengisi kajian, panjang. Gara-gara itu, kajian minggu depannya ia sengaja tak hadir. Ketika rekan-rekannya bertanya, dengan berapi-api ia menjawab : “Kalau hal-hal yang kecil saja tidak diperhatikan, bagaimana mau menyampaikan hal-hal yang besar seperti materi kajian ??” katanya sambil mengutip sabda Nabi yang mengatakan bahwa :

“Lima perkara yang termasuk fitrah, yaitu : mencukur bulu kemaluan, berkhitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku” [Hadits Riwayat Bukhari 5550, 5552, 5939. Muslim 257. Abu Dawud 4198. Tirmidzi 2756. Nasa'i 10. Ibnu Majah 292].

Sesaat setelah ia bercerita, aku berpikir :

“Betul juga pendapatnya, kalau hal-hal yang kecil saja diremehkan, bagaimana mau menyampaikan hal-hal yang besar. Tapi…manusia seperti apakah yang harus jadi seorang guru, seorang dosen, seorang penasehat, seorang pengajar, pengisi kajian, penceramah, jika dituntut harus SEMPURNA 100% seperti nabi ??? Sedangkan sampai kapanpun manusia tidak akan pernah menjumpai KESEMPURNAAN ???

Lalu, jika ada seorang ustadz datang akan berceramah, haruskah kita bilang : “Maaf ustadz, mohon perlihatkan ketiaknya !!!”

5 Januari 2010

Ragam wujud terima kasih

Filed under: Mydiary — nuun @ 07:19
Tags: , , ,

 Pertengahan tahun 2009, beberapa saat usai jam mengajar Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah (PPAKP) di Hotel Omni Batavia, seorang ibu berujar “Cuma bapak, lho, yang kami kasih nilai sepuluh !”. Seorang bapak yang duduk di barisan belakang berteriak “semua materi biar bapak aja yang ngajar!”

********

Beberapa hari lewat tanggal 21 Oktober 2009. Bingkisan biru muda tergeletak di atas tempat tidur. Kuambil, dan dipergoki istriku yang masuk kamar. Ia berkata “Makasi banyak sudah mau setia mencintaiku. Met ultah ya A’…”

********

Pertengahan November 2009, saat perjalanan berangkat menuju ke kantor menggunakan sepeda motor. Tepat di pangkal flyover Pesing Jakarta Barat dari arah Kalideres, seorang polisi berdiri di samping flyover sambil memegang papan bertuliskan “Sepeda Motor. Nyalakan Lampu. Lajur Kiri”. Ia melihatku akan segera melintasinya, lalu mengacungkan ibu jari sambil tersenyum. Begitu juga bagi pengendara yang lain.

********

Awal  Januari 2010, seorang wanita Indonesia, yang berada di Saudi menyampaikan sebuah award dalam blognya dengan pesan  “ini sebagai tanda terima kasih sunflo atas kunjungan dan persahabatan hangat yang selama ini telah teman-teman bagi kepada sunflo”.

********

Menjelang tutup briefing intern Helpdesk Aplikasi Dit. Sistem Perbendaharaan, setelah membahas sekian banyak pembahasan, seorang pegawai berkomentar “Siapa yang tidak setuju nuun jadi bendahara, maka dialah penggantinya…”. Semua peserta briefing malah tertawa, karena memang hanya aku yang tidak setuju.

********

Banyak sekali cara orang menghargai sesuatu. Berterima kasih atau memuji karena sesuatu hal. Yang kesemuanya itu mendorong untuk berbuat lebih.

Sebagaimana semangat mengajarku lebih baik lagi saat ada yang berteriak di kisah yang pertama. Rasa cinta dan setia yang ingin kupupuk lebih subur lagi buat istriku setelah mendapat kado dan ucapannya. Ketaatanku terhadap rambu-rambu lalu lintas setelah kekuatan jempol dan senyuman seorang polisi. Semangat untuk istiqomah menulis setelah mendapat “bingkisan” dari Saudi. Juga lebih amanah dan bertanggung jawab setelah diputuskan harus menjabat bendahara lagi.

Apakah hidup beserta kenikmatannya ini juga wujud terima kasih Tuhan pada kita ?

30 Desember 2009

Adakah Keinginan (sederhana) Yang Tak Kesampaian ?

Filed under: Non-diary — nuun @ 19:17

Malam cukup larut, namun si kecil belum juga tidur. Dia masih semangat bermain dengan sekardus mainannya saat aku menuntaskan kerjaan kantor. Memang, menjelang akhir tahun separuh pekerjaan kantor menuntut untuk dikerjakan di rumah jika tidak ingin dilakukan secara lembur.

Setelah mengambil segelas air putih, kuminum beberapa tegukan, lalu diletakkan di samping laptop. Tiba-tiba si kecil mendekat sambil merengek. Lalu kuangkat untuk kupangku. Dia malah meronta, dan menendang-nendangkan kaki ke lantai. Lalu kugendong dan hendak menuju meja TV untuk menggantikan CD, siapa tahu ia sudah bosan dengan Teletubbies yang sejak setengah jam yang lalu diputar.

Tangisannya tambah menjadi-jadi sambil menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menjauh dari TV. Lalu ia menunjuk-nunjuk laptop.

“Oh, ade mau maen Laptop. Kalo gitu liat-liat aja ya, ga usah megang-megang” sambil kududukan di atas pahaku menghadap laptop.

Kujauhkan gelas, dan kudekatkan laptop untuk dapat ia lihat secara jelas namun tak dapat ia jangkau. Si kecil menangis lagi, sambil menunjuk-nunjuk Laptop. Aku mengalah, kudekatkan lagi laptop lebih dekat, hingga kuharapkan tangannya dengan bebas menekan-nekan keyboard.

Tapi ia tetap menangis, dan kali ini ia berusaha melipat laptop. Aku bingung. Sangat bingung. Apa sebenarnya yang ia inginkan. Hingga akhirnya baru terpikir…

“Masya Allah! Ade haus ?”

Kulipat laptop, lalu kuambil gelas yang masih berisi air putih dan kudekatkan dengan bibirnya. Subhanallaah…ia reguk air itu cukup banyak. Hingga tangisannya berhenti. Dan keluar ocehan yang tak jelas setelah ia puas minum.

Aku termenung sejenak. Kerongkongan serasa tercekat. Lalu rangkaian pertanyaan demi pertanyaan hadir bertubi-tubi.

Bagaimana jika aku sampai tidak mengerti apa yang si kecil maksudkan?

Bagaimana jika aku benar-benar tidak tahu jika si kecil haus atau lapar yang teramat sangat ?

Bagaimana jika itu terjadi padaku?

Bagaimana jika aku sedang kehausan, tapi mulutku bisu, tak dapat menyampaikan secara lisan ?

Lalu, bagaimana jika aku benar-benar sangat kelaparan sedangkan aku tak lagi mempunyai lengan untuk menuliskan sebuah keinginan ?

Lalu, bagaimana juga jika aku lumpuh, tak dapat melangkah sedikitpun ke dapur hanya untuk mengambil segelas air ?

Terbayang olehku, seorang yang (maaf) tunawicara sekaligus buta aksara, ditambah dengan (maaf) tunadaksa. Bagaimanakah ia menyampaikan keinginannya, yang hendak memberitahukan bahwa ia sangat kehausan ?

10 Desember 2009

Maafkan aku ya, Mi)*…

Filed under: Mydiary — nuun @ 22:48
Tags: ,

Maafkan aku ya, Mi…
Setiap aku mencari artikel di internet, tak pernah aku mengetikkan di Google “kewajiban anak kepada orang tua”. Atau “merawat orang tua”. Aku terlalu sibuk dan menikmati pencarian “update AVG”, “installing mysql apache”, “windows bug”, … semuanya tentang hobi dan kerjaan.

Maafkan aku ya, Mi…
Belum pernah aku searching di Google untuk mencari namamu. Atau sekedar mengetahui siapa saja yang namanya sama denganmu. Aku sangat sering mencari nama-nama kenalanku, teman lamaku, nama guruku…

Maafkan aku ya, Mi…
Hampir sepanjang waktu di sela-sela kesibukan kerja, di saat Gtalk atau Yahoo Messenger-ku online, masih sempat chatting dengan teman-temanku walau sekedar iseng mengomentari statusnya. Tak pernah aku meluangkan sesaat, untuk mengirim pesan pendek sekedar menanyakan sudah makan atau belum. Sudah minum obat atau belum. Semua untukmu, hanya sisa waktu.

Maafkan aku ya, Mi…
Setiap aku buka akun facebook yang kian hari kian bertambah banyak temanku, curahan hatiku, keluh kesahku, semua tertumpah di status facebook. Berharap banyak teman yang mengomentari. Tapi semua itu tak pernah aku sampaikan padamu. Tak pernah ku-curhat-kan padamu. Atau sekedar untuk didengarkan. Lebih-lebih mendapat pencerahan.

Maafkan aku ya, Mi…
Tak pernah aku mempublikasikan namamu di dunia maya, atau dimanapun. Apalagi kugunakan sebagai user id dan password. Aku hanya bangga dengan namaku, nama penaku, nama samaranku. Kecuali ketika costumer service sebuah bank menanyakan “nama ibu kandung” saat aku buka rekening tabungan.

Maafkan aku ya, Mi…
Hampir semua foto yang ku-upload di facebook, friendster, atau sekedar memenuhi memory di komputer, semuanya gambarku, keceriaan bersama temanku yang kadang narsis. Jarang sekali keriput wajahmu, senyum tulusmu, atau alaminya ekspresi wajahmu, bahasa tubuh yang tak dibuat-buat dan direkayasa, tertangkap kamera, untuk sekedar dijadikan gambar desktop barang sesaat.

Maafkan aku ya, Mi…
Jasamu sering kukenang hanya menjelang hari Ibu. Itupun jika aku ingat kapan tiba masanya.

Maafkan aku ya, Mi..
Yang jarang sekali meminta maaf padamu…

)* Mimi panggilan ibuku, yang sering kusingkat menjadi “Mi”.
Tulisan yang kupersembahkan dalam rangka menjelang Hari Ibu dan memeriahkan Karnaval Blog : Minum Teh Bersama Ibu

4 Desember 2009

Cacat yang mengerikan !!

Filed under: Mydiary — nuun @ 09:39

Kamu mungkin punya mata. Namun tak berfungsi sebagaimana orang-orang lainnya. Mungkin kamu pernah melihat, namun karena satu dan lain hal semuanya menjadi gelap. Tak ada warna lain selain kelam. Tak ada pemandangan apapun yang bisa kalian lihat kecuali legam. Senyum manis seorang ibu, atau mengembangnya bibir ayahmu, tak dapat lagi dilihat. Raut wajah kakak atau adik yang kadang menggemaskan tak dapat lagi terasa menyejukan. Rumah yang dihuni, tak pernah lagi terbayangkan lagi luasnya. Kamarmu yang dengan dulu susah payah menghias dindingnya tak lagi dapat kamu nikmati. Televisi yang sehari-hari ditonton keluargamu hanya sekedar suara dan gelak tawa anggota keluarga. Dulu kau sempat melihat jernihnya air minum, kini tinggal rasa yang tersimpan. Mentari yang kadang membuat kau silau menjelang pagi, hanya tersisa rasa panasnya. Dulu pernah memandang monitor, kini hanya dapat memegang mouse tanpa melakukan apa-apa. Langit biru yang terbentang, merah saga senja yang menjulang, kilauan bintang, indahnya sabit di malam, kini hanya tinggal kenangan. Tak ada warna tersisa kecuali hanya kegelapan. Dan kini, kamu berjalan ditemani teman setiamu, tongkat di tangan.

Kamu mungkin punya kaki. Tapi tak berfungsi sebagaimana mestinya. Tidak seperti orang yang bisa berlari. Kamu hanya bisa tertatih, terpincang-pincang. Bahkan sebuah kursi roda, menjadi teman sejati melebihi siapapun. Orang dengan riangnya dapat menendang bola, bermain dengan adik-adiknya. Kamu bahkan tidak dapat memakai sepatu hanya karena tak ada kaki. Bintang iklan dengan senangnya memamerkan kakinya hanya karena memakai sebuah lotion pemutih, sedangkan kamu, kaki yang mana yang kamu lulur? Setiap kali melewati toko sepatu dan kaos kaki, hatimu hanya bisa terenyuh tak dapat membeli, sekalipun harga murah, atau gratis sekalipun.

Kamu mungkin punya bibir. Namun bibirmu tak jua berfungsi. Tak ada sepatah katapun terucap, untuk menyampaikan sesuatu pada orang lain. Kalimat-kalimat sebagai ungkapan keinginanmu pun tak dapat disampaikan. Bahkan untuk sekedar mengucapkan “terima kasih” pada ibumu pun hanya dapat dengan bahasa tubuh. Orang dengan mudah berucap, berdiskusi. Dengan senang hati saling melempar gurauan hingga tertawa terbahak-bahak. Dan kamu hanya menjadi pendengar baik, mendengar orang tertawa dengan riangnya. Kamu tak dapat mengucapkan “aku sayang kamu”. Kamu tak lagi dapat mengucapkan permintaan maaf. Kini kamu hanya bisa diam seribu bahasa, tak terkecuali dengan kemampuanmu menguasai lebih dari satu bahasa. Lidahmu kelu, indahnya bibirmu pun hanya bisa terlihat senyuman, bukan dengan kata-kata.

Kamu punya telinga. Tapi tak dapat mendengar apa-apa. Sebagaimana orang dengan asyiknya mendengar radio. Sebagaimana orang –yang cukup dengan memejamkan mata- memutar IPOD dengan lagu kesukaannya di manapun mereka suka. Kamu hanya bisa melihat gambar di TV, tanpa terdengar sedikit pun suara atau bunyinya. Kamu tak dapat mendengar apa yang disampaikan orang lain padamu. Kamu tak lagi mendengar ibumu memanggil nama indahmu. Tak lagi mendengar celotehan si adik. Dongeng yang sering ayah ceritakan menjelang tidur. Tak sesuatupun terdengar oleh telaingamu, bahkan desahanmu sekalipun, kecuali suara hatimu.

Untuk kalian, wahai kawanku yang berada dalam “kelebihan”. Kalian memang (maaf) cacat secara fisik. Indera yang Tuhan anugerahkan kepada kalian tak lagi berfungsi, bahkan dari sejak terlahir ke dunia. Namun aku sangat yakin, status “SEMPURNA”nya manusia sebagaimana Tuhan firmankan, jua ada dalam diri kalian. Karena kesempurnaan itu bukan pada ada dan keberadaan fungsi indera serta fisik yang terlihat. Namun sesuatu yang tersembunyi, yang hanya dapat dilihat Tuhan, dan dapat dirasakan manusia. Hati kalian yang bisa jadi lebih indah dibandingkan hatiku. Hati kalian yang lebih bersih dibandingkan hatiku. Hati kalian yang lebih putih dibandingkan dengan hatiku yang kelam.

Jangan bersedih ya… karena aku yakin, masih banyak orang yang dengan menundukan pandangan, menengadahkan telapak tangan ke langit, lalu melemparkan senandung doa untukmu, bahkan lebih dari itu. Dan mudah-mudahan aku termasuk salah satu diantaranya.

Jangan bersedih ya.. karena cacat yang sebenarnya dan yang paling mengerikan adalah cacatnya hati, cacatnya harga diri, yang terbawa hingga mati…

Kupersembahkan untuk sahabat-sahabatku yang punya “kelebihan” dalam rangka menghormati Hari Penyandang Cacat Sedunia (yang aku baru tahu jatuh pada) tanggal 3 Desember

Next Page »