Kamu mungkin punya mata. Namun tak berfungsi sebagaimana orang-orang lainnya. Mungkin kamu pernah melihat, namun karena satu dan lain hal semuanya menjadi gelap. Tak ada warna lain selain kelam. Tak ada pemandangan apapun yang bisa kalian lihat kecuali legam. Senyum manis seorang ibu, atau mengembangnya bibir ayahmu, tak dapat lagi dilihat. Raut wajah kakak atau adik yang kadang menggemaskan tak dapat lagi terasa menyejukan. Rumah yang dihuni, tak pernah lagi terbayangkan lagi luasnya. Kamarmu yang dengan dulu susah payah menghias dindingnya tak lagi dapat kamu nikmati. Televisi yang sehari-hari ditonton keluargamu hanya sekedar suara dan gelak tawa anggota keluarga. Dulu kau sempat melihat jernihnya air minum, kini tinggal rasa yang tersimpan. Mentari yang kadang membuat kau silau menjelang pagi, hanya tersisa rasa panasnya. Dulu pernah memandang monitor, kini hanya dapat memegang mouse tanpa melakukan apa-apa. Langit biru yang terbentang, merah saga senja yang menjulang, kilauan bintang, indahnya sabit di malam, kini hanya tinggal kenangan. Tak ada warna tersisa kecuali hanya kegelapan. Dan kini, kamu berjalan ditemani teman setiamu, tongkat di tangan.
Kamu mungkin punya kaki. Tapi tak berfungsi sebagaimana mestinya. Tidak seperti orang yang bisa berlari. Kamu hanya bisa tertatih, terpincang-pincang. Bahkan sebuah kursi roda, menjadi teman sejati melebihi siapapun. Orang dengan riangnya dapat menendang bola, bermain dengan adik-adiknya. Kamu bahkan tidak dapat memakai sepatu hanya karena tak ada kaki. Bintang iklan dengan senangnya memamerkan kakinya hanya karena memakai sebuah lotion pemutih, sedangkan kamu, kaki yang mana yang kamu lulur? Setiap kali melewati toko sepatu dan kaos kaki, hatimu hanya bisa terenyuh tak dapat membeli, sekalipun harga murah, atau gratis sekalipun.
Kamu mungkin punya bibir. Namun bibirmu tak jua berfungsi. Tak ada sepatah katapun terucap, untuk menyampaikan sesuatu pada orang lain. Kalimat-kalimat sebagai ungkapan keinginanmu pun tak dapat disampaikan. Bahkan untuk sekedar mengucapkan “terima kasih” pada ibumu pun hanya dapat dengan bahasa tubuh. Orang dengan mudah berucap, berdiskusi. Dengan senang hati saling melempar gurauan hingga tertawa terbahak-bahak. Dan kamu hanya menjadi pendengar baik, mendengar orang tertawa dengan riangnya. Kamu tak dapat mengucapkan “aku sayang kamu”. Kamu tak lagi dapat mengucapkan permintaan maaf. Kini kamu hanya bisa diam seribu bahasa, tak terkecuali dengan kemampuanmu menguasai lebih dari satu bahasa. Lidahmu kelu, indahnya bibirmu pun hanya bisa terlihat senyuman, bukan dengan kata-kata.
Kamu punya telinga. Tapi tak dapat mendengar apa-apa. Sebagaimana orang dengan asyiknya mendengar radio. Sebagaimana orang –yang cukup dengan memejamkan mata- memutar IPOD dengan lagu kesukaannya di manapun mereka suka. Kamu hanya bisa melihat gambar di TV, tanpa terdengar sedikit pun suara atau bunyinya. Kamu tak dapat mendengar apa yang disampaikan orang lain padamu. Kamu tak lagi mendengar ibumu memanggil nama indahmu. Tak lagi mendengar celotehan si adik. Dongeng yang sering ayah ceritakan menjelang tidur. Tak sesuatupun terdengar oleh telaingamu, bahkan desahanmu sekalipun, kecuali suara hatimu.
Untuk kalian, wahai kawanku yang berada dalam “kelebihan”. Kalian memang (maaf) cacat secara fisik. Indera yang Tuhan anugerahkan kepada kalian tak lagi berfungsi, bahkan dari sejak terlahir ke dunia. Namun aku sangat yakin, status “SEMPURNA”nya manusia sebagaimana Tuhan firmankan, jua ada dalam diri kalian. Karena kesempurnaan itu bukan pada ada dan keberadaan fungsi indera serta fisik yang terlihat. Namun sesuatu yang tersembunyi, yang hanya dapat dilihat Tuhan, dan dapat dirasakan manusia. Hati kalian yang bisa jadi lebih indah dibandingkan hatiku. Hati kalian yang lebih bersih dibandingkan hatiku. Hati kalian yang lebih putih dibandingkan dengan hatiku yang kelam.
Jangan bersedih ya… karena aku yakin, masih banyak orang yang dengan menundukan pandangan, menengadahkan telapak tangan ke langit, lalu melemparkan senandung doa untukmu, bahkan lebih dari itu. Dan mudah-mudahan aku termasuk salah satu diantaranya.
Jangan bersedih ya.. karena cacat yang sebenarnya dan yang paling mengerikan adalah cacatnya hati, cacatnya harga diri, yang terbawa hingga mati…
Kupersembahkan untuk sahabat-sahabatku yang punya “kelebihan” dalam rangka menghormati Hari Penyandang Cacat Sedunia (yang aku baru tahu jatuh pada) tanggal 3 Desember